Bulan-bulan haji ini ada kebiasaan yang selalu berulang di kalangan masyarakat kita, yaitu menikah. Musim kawin bahasa awamnya. Hampir dipastikan, sebelum dan sesudah lebaran haji, undangan pernikahan akan menumpuk di rumah ataupun di facebook (bagi yang punya).
Sebelum undangan nikah dibuat, pasti ada sebuah proses yang mendahuluinya, yaitu mencari pasangan sesuai kriteria. Setiap orang punya kriteria sendiri yang orang lain memang tidak berhak mencampurinya. Namun belakangan ini, kriteria yang dibuat semakin aneh saja.
Seperti sms yang pernah diterima suami saya, seorang teman minta dicarikan calon istri dengan kriteria sholehah, beserta ciri fisik yang terperinci (putih misalnya). Tapi itu belum seberapa. Ada lagi yang minta istrinya selain berjilbab, putih, juga bisa mengendarai mobil dan motor karena dia malas mengantar istrinya kelak. Lebih aneh lagi kan? Sering saya berdiskusi dengan suami saya sambil tertawa geli, mau cari calon istri atau calon pegawai? Untung saja ngga ada tambahan minimal lulusan mana dan jurusan apa
.
Pergeseran nilai, itulah yang sedang terjadi. Tren yang sedang berjalan saat ini adalah lelaki yang mencari istri yang juga bekerja dengan pengahsilan lumayan pula. Para lelaki ini mulai ‘malas’ mengemban tugas mencari nafkah sepenuhnya di pundaknya. Dia ingin membagi beban itu pada perempuan yang akan dinikahinya. Kasihan sekali para single saat ini. Apalagi yang belum bekerja. Tapi percayalah, lelaki baik hanya untuk perempuan baik. Percaya itu.