Sebuah data yang mencengangkan baru saja dirilis oleh BKKBN tentang perilaku seks di kalangan remaja. Mencengangkan karena ternyata rata-rata lima puluh persen remaja yang disurvey di beberpa kota besar di Indonesia telah melakukan seks pra nikah. What!! Angka ini meningkat drastis dari tahun ke tahun. kalau perilakunya seperti ini, apa yang ada di otak mereka selama ini hanya yang berbau seks? Bisa jadi. Karena perilaku seseorang sangat ditentukan oleh apa yang ada di otak dan pikirannya.
Menurut saya ada beberapa faktor yang membuat angka ini demikian fantastis. Pertama, kondisi keluarga yang kurang kondusif untuk remaja berbicara secara terbuka tentang apa yang mereka rasakan, terutama keingintahuan mereka soal seks. Kedua, kemudahan informasi yang demikian luas untuk memenuhi rasa penasaran mereka dan membuat hasrat untuk mencobanya pun demikian tinggi. Ketiga, para remaja ini kurang diberikan ‘tugas’ yang membuat pikiran dan fisik mereka cukup sibuk sehingga tidak sempat lagi untuk berpikir hal lain, termasuk soal seks. Karena dari pengamatan pribadi, sekolah-sekolah yang memberikan tugas dan remaja yang ikut kegiatan ekstra kurikuler, cenderung terhindar dari pergaulan bebas. Keluarga yang terbuka juga membuat remaja nyaman secara emosi sehingga mereka tidak mencari kenyamanan di luar rumah.
Sisi lain yang ingin saya soroti adalah peran dakwah sekolah yang selama ini ternyata kurang optimal untuk membendung perilaku yang negatif. Dakwah sekolah selama ini ternyata baru bisa menyentuh mereka yang memang sudah baik. Belum menyentuh mereka yang jauh dari kebaikan. Kalaupun ada, baru bersifat individu, belum masif. Getaran energi positif dari para pelaku dakwah belum menggetarkan hati remaja-remaja yang masih jauh dari Islam. Bisa jadi mereka sholih tapi hanya untuk pribadi, belum menjadi pribadi yang mensholihkan orang lalin. Wallahu’alam