Januari 2011 bukan bulan baru yang menyenangkan bagi sebagian besar orang nanti. Karena ada kebijakan baru pemerintah yang tidak bisa dikatakan bijak akan diterapkan kepada rakyatnya yang sedang terhimpit ini. Ya! Para pengguna mobil plat hitam dilarang menggunakan premium. Harus ke pertamax yang harganya saat ini hampir 7 ribu rupiah per liter. Benar-benar mencekik kami di kalangan menengah yang sudah cukup pusing dengan naiknya kebutuhan pokok sehari-hari. Kini kami pun harus mengencangkan ikat pinggang lagi untuk menyisihkan uang bensin.
Aku tinggal di negeri yang seperti apa? Yang pemerintahnya justru membuat susah rakyat. Sedangkan para pejabat semakin buncit dengan pundi-pundi kekayaan yang semakin berlimpah. Negeri ini memang mayoritas dihuni oleh kaum muslim, tapi jauh dari berkah. Sampai saat ini saya tidak habis berpikir, apa lasan pemerintah menetapkan peraturan yang ajaib ini?
Harga bensin di negara lain mungkin jauh lebih mahal, tapi biaya hidup mereka yang lain tidak ikut-ikutan mahal. Sekolah gratis, biaya kesehatan murah (tapi kualitas terjamin), jalan tol gratis, tuna wisma disantuni, biaya listrik dan komunikasi murah, harga buku juga murah, dan yang terpenting, pendapatan perkapitanya jauh lebih tinggi dibanding Indonesia.
Di Indonesia? Jangan ditanya, semua mahal, sangat mahal. Sampai-sampai ada istilah orang muskin tidak boleh sakit dan tidak bisa pintar saking mahalnya biaya pendidikan dan kesehatan. Padahal negeri ini kaya akan potensi alam yang luar biasa. Namun uang hasil penjualan kekayaan alam ini entah menguap ke mana. Negeri ini sudah salah urus!
Rasulullah dan para sahabat sudah memberikan contoh bagaimana sebuah negeri bisa keluar dari krisis. Mereka pun pernah mengalami krisis, dan solusi yang mereka berikan tidak dengan menambah hutang pada negara lain. Pada saat itu, yang ada di rumah para pemimpinnya hanyalah kurma dan air. Para pemimpin mencontohkan keteladanan yang terbaik. Mereka “menyuruh” masyarakatnya untuk berhemat lewat keteladanan. Bukan lewat peraturan yang justru lebih menyengsarakan rakyatnya sendiri.
Mungkinkah akan ada kebijakan potong gaji bagi para pejabat publik, mengurangi biaya perjalanan dinas yang tidak penting, dan MENGHAPUS KORUPSI di semua lini. Jika salah satu cara ini bisa diterapkan dengan konsisten, saya yakin, negara akan memiliki lebih banyak uang untuk ‘diberikan’ kepada rakyatnya. Dimanakah pemimpin seperti ini?